Seperti apa bentuk perang yang mungkin terjadi antara Washington dan Teheran? Ini kata analis
Putaran perang berikutnya antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran berpotensi berlangsung lebih sengit dibandingkan sebelumnya.
Ruang diplomasi semakin menyempit, sementara kedua belah pihak cenderung mengandalkan kekuatan militer untuk mengakhiri konflik.
Menurut sejumlah analis, keberlangsungan Iran sebagai sebuah negara kini bergantung pada serangan militer yang telah lama diisyaratkan Washington.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa negaranya telah menunjukkan kinerja yang baik dalam menghadapi Iran.
Dalam pernyataannya tadi malam, Trump mengatakan, “Kita hanya tinggal mengambil keputusan akhir mengenai cara yang kita inginkan untuk meraih kemenangan.”
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa solusi politik dengan Teheran tidak lagi memungkinkan.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, saat bertemu dengan Panglima Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir, menegaskan bahwa Washington harus terlebih dahulu mencabut tekanan, ancaman, dan sanksi sebelum kedua pihak dapat memulai perundingan.
Pernyataan para pejabat Amerika Serikat mengindikasikan adanya niat yang jelas untuk kembali berperang.
Tim Constantine, Wakil Pemimpin Redaksi The Washington Times, menilai bahwa seluruh jajaran pemerintahan Trump tidak lagi percaya pada jalur perundingan.
Menurut Constantine kepada Aljazeera, dikutip Rabu (21/10/2026), pernyataan Rubio tentang tidak adanya manfaat dari perundingan menunjukkan bahwa situasi mengarah pada kemungkinan serangan militer besar-besaran, baik sebelum maupun setelah pemilihan sela Kongres AS.
Sementara itu, Hassan Ahmadian, profesor Studi Timur Tengah di Universitas Teheran, mengatakan bahwa keberlangsungan Iran sebagai sebuah negara kini dipertaruhkan dalam serangan yang telah lama diisyaratkan para pejabat Amerika Serikat.
Ia menegaskan bahwa Teheran kali ini tengah mempersiapkan diri dengan lebih serius dan dalam skala yang lebih luas.
Menurut Ahmadian kepada Aljazeera, fokus Iran adalah mencegah serangan terhadap infrastruktur, menjangkau kemampuan militer Amerika Serikat yang mengepung Iran, serta membuat keberadaan dan operasi militer AS di kawasan menjadi mahal bagi Washington.
Selain itu, Iran berupaya memicu penentangan masyarakat Amerika terhadap Trump akibat kenaikan harga-harga, sebagaimana yang saat ini terjadi di sejumlah ibu kota negara Eropa.
Menurut Ahmadian, serangan berikutnya tidak mungkin dihadapi dengan cara yang sama seperti dalam perang selama 12 hari.
Dalam konflik tersebut, Israel melancarkan serangan terhadap Iran, kemudian Amerika Serikat turut campur dengan menyerang fasilitas nuklir Iran, sebelum mengumumkan penghentian pertempuran.
Jika Israel kembali melancarkan serangan, Iran akan memandangnya sebagai serangan gabungan yang melibatkan Amerika Serikat. Karena itu, respons Teheran kali ini diperkirakan berbeda.
Penolakan kedua belah pihak terhadap berbagai inisiatif yang diajukan para mediator, ditambah sikap Trump yang mengabaikan usulan yang disampaikan Teheran sendiri, membuat kemungkinan kembalinya pertempuran dengan intensitas lebih tinggi semakin besar. Demikian penilaian Muhammad al-Sharqawi, profesor penyelesaian konflik internasional.
Menurut al-Sharqawi, Trump tampaknya semakin yakin bahwa tekanan finansial terhadap rakyat Iran telah membuahkan hasil. Karena itu, ia mungkin menilai perang dapat dimenangkan melalui peningkatan tekanan militer.
Terlebih lagi, hubungan Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menghangat. Kondisi tersebut, menurut al-Sharqawi, semakin memperbesar kemungkinan kedua pihak kembali terlibat dalam pertempuran.
Indikasi lainnya terlihat dari sikap Presiden AS yang tidak memberikan sinyal bahwa konfrontasi akan segera berakhir. Trump juga dinilai tidak menunjukkan pendekatan pragmatis dalam menangani krisis ini.
Di saat yang sama, kedua belah pihak menolak berbagai inisiatif penyelesaian konflik yang dibawa para mediator.
Menurut al-Sharqawi, situasi tersebut menunjukkan bahwa Trump dan Garda Revolusi Iran sama-sama cenderung menuju konfrontasi militer yang berpotensi jauh lebih sengit.


0 Response to "Seperti apa bentuk perang yang mungkin terjadi antara Washington dan Teheran? Ini kata analis"
Posting Komentar