Pasang Iklan Gratis

benteng persenjataan Iran kokoh bertahan? Ini kata media Barat

 Jaringan media Amerika Serikat, Bloomberg, mengungkapkan bahwa Iran berhasil mempertahankan fasilitas produksi rudal dan pesawat nirawaknya.

Langkah ini dilakukan meskipun telah berbulan-bulan menjadi sasaran serangan udara Amerika Serikat dan Israel. Kondisi ini memungkinkan Teheran membangun kembali persenjataan militernya.

Perkembangan tersebut muncul ketika Presiden AS Donald Trump, melalui unggahan di media sosial pada Kamis (8/10/2026), berjanji tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu Kongres AS pada November mendatang.

Bloomberg, Jumat, mengutip sejumlah pejabat Barat yang meminta identitasnya dirahasiakan karena membahas penilaian yang belum dipublikasikan.

Mereka menyebut Iran masih memiliki kemampuan memproduksi senjata untuk menggantikan persenjataan yang telah hilang.

Salah seorang pejabat mengatakan Iran masih menyimpan persediaan rudal balistik dalam jumlah besar serta sejumlah senjata antikapal.

Teheran juga dinilai mampu meningkatkan jumlah persenjataannya dalam waktu relatif singkat.

Pejabat tersebut menambahkan bahwa Rusia turut memasok rudal kepada Iran. Informasi ini sejalan dengan penilaian terpisah yang dibuat pada Juni lalu.

Namun, Kementerian Pertahanan Rusia tidak segera menanggapi permintaan Bloomberg untuk memberikan komentar.

Penilaian tersebut bertentangan dengan pernyataan berulang Trump dan sejumlah pejabat pemerintahannya yang menyebut delapan bulan serangan udara telah menghancurkan kemampuan Iran untuk mengancam pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan serta sekutu-sekutu Washington.

Awal tahun ini, Trump bahkan menyatakan bahwa militer Iran telah “hancur sepenuhnya”.

Sementara itu, Menteri Perang AS Pete Hegseth, dalam pidatonya pada 30 September lalu, mengklaim bahwa Amerika telah menghancurkan kapasitas industri militer Iran dan seluruh basis pertahanannya.

Gedung Putih maupun Departemen Perang AS (Pentagon) belum segera memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari Bloomberg.

Sebelum laporan Bloomberg diterbitkan, pihak Iran telah menyampaikan klaim mengenai peningkatan kapasitas produksi persenjataannya.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Reza Talaei, mengatakan kemampuan produksi senjata negaranya telah mencapai 2,5 kali lipat dibandingkan sebelum perang.

Menurut laporan kantor berita Tasnim pada Selasa, peningkatan tersebut terjadi karena Iran memanfaatkan seluruh kapasitas industri pertahanannya.

Ia menambahkan bahwa rencana produksi peralatan ofensif terus diperbarui untuk menyesuaikan perkembangan taktik peperangan dan kebutuhan angkatan bersenjata.

Talaei juga memperingatkan, “Jika musuh salah memperhitungkan situasi, mereka pasti akan menghadapi persenjataan yang lebih canggih dan respons keras dari angkatan bersenjata kami.”

Meski Iran masih dinilai mampu memproduksi senjata, sejumlah perkiraan lain menunjukkan bahwa serangan Amerika Serikat dan Israel telah menimbulkan kerusakan besar terhadap industri rudal negara tersebut.

Dalam laporan yang disusun Jim Lamson, mantan analis Badan Intelijen Pusat AS (CIA) sekaligus peneliti tamu di King’s College London, disebutkan bahwa kampanye serangan udara kemungkinan telah sangat melemahkan sebagian besar kemampuan Iran memproduksi rudal dibandingkan kondisi sebelum perang. Dampaknya bahkan diperkirakan dapat berlangsung dalam jangka panjang.

Sebelum perang, Israel memperkirakan Iran memiliki sekitar 2.500 rudal balistik. Namun, jumlah rudal yang masih tersisa saat ini belum diketahui secara pasti.

Penilaian intelijen negara-negara Barat, dengan laporan terbaru berasal dari Juni lalu, menunjukkan bahwa Iran masih memiliki sekitar tiga perempat dari persediaan amunisi yang dimilikinya sebelum perang.

Berdasarkan analisis Bloomberg Economics terhadap data yang dipublikasikan, sejak konflik dimulai pada 28 Februari lalu, Iran telah meluncurkan lebih dari 4.000 rudal jelajah Shahed bermesin baling-baling serta sedikitnya 2.000 rudal balistik.

Becca Wasser, penanggung jawab urusan pertahanan di Bloomberg Economics, mengatakan berkurangnya intensitas serangan besar-besaran Amerika Serikat telah memberi Iran waktu untuk mengganti persenjataan yang hilang dan membangun kembali kemampuan militernya.

Menurutnya, Teheran memanfaatkan jeda tersebut untuk mempersiapkan diri menghadapi putaran pertempuran berikutnya, yang diyakini Iran akan kembali terjadi.

Wasser memperkirakan siklus meredanya pertempuran, persenjataan kembali, dan pecahnya konflik baru dapat memperpanjang perang. Dalam situasi tersebut, tidak satu pun pihak diperkirakan mampu mempertahankan keunggulan yang jelas atas lawannya.

0 Response to "benteng persenjataan Iran kokoh bertahan? Ini kata media Barat"

Posting Komentar