Analis Israel ramai-ramai mengecam: PM Netanyahu telah dipermalukan Donald Trump
Para analis Israel mengkritik keras Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan menyebutnya sebagai "pembohong" dan penuh kegagalan. Analis menilai Presiden AS Donald Trump telah mempermalukan Netanyahu dengan mengecualikannya dari kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang.. Demikian dilaporkan kantor berita Turki Anadolu dilansir Middle East Monitor.
Netanyahu mengakui bahwa ia tidak mengetahui detail nota kesepahaman yang dicapai antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Netanyahu mengklaim telah menyelamatkan warga Israel dari ancaman nuklir dengan melancarkan perang melawan Iran. Ia mengakui perbedaan pendapat dengan Trump.
Kolumnis Haaretz, Yossi Verter, melancarkan serangan pedas terhadap Netanyahu dalam sebuah artikel berjudul, "Tanpa rasa malu, arsitek kegagalan (Netanyahu) mengeklaim bahwa ia menyelamatkan Israel dari kematian kolektif. Itu adalah kebohongan lain di antara banyak kebohongan lainnya."
"Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berada di puncak apa yang oleh setiap ahli didefinisikan sebagai kegagalan strategis bagi Negara Israel dan yang dapat ia katakan kepada warganya hanyalah: 'Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, selama saya menjadi perdana menteri'," tulisnya.
Netanyahu telah mengatakan klaim itu selama 30 tahun. Namun di saat yang bersamaan, pada konferensi persnya Senin, Netanyahu mengeklaim Israel hampir saja menghadapi kehancuran massal.
Tel Aviv dan Washington menuduh Teheran mengejar senjata nuklir yang mengancam Israel dan sekutu AS di kawasan tersebut. Namun, Iran mempertahankan bahwa program nuklirnya sepenuhnya bersifat damai. Mereka tidak berupaya mengembangkan senjata nuklir dan bersikeras tidak menimbulkan ancaman bagi negara lain.
Israel yang menduduki wilayah Palestina serta tanah di Lebanon dan Suriah, secara luas diyakini sebagai satu-satunya negara di Timur Tengah yang memiliki persenjataan nuklir. Meskipun belum pernah ada keterangan secara resmi Israel mengakui memilik senjata itu dan tidak tunduk pada pengawasan Badan Energi Atom Internasional.
Verter mengatakan bahwa sesumbar Netanyahu sebelumnya tentang pencapaian bersejarah selama beberapa generasi tampaknya telah pupus dalam kabut pahit yang menyelimuti Israel.
"Hilang juga tujuan untuk menggulingkan rezim, atau setidaknya menciptakan kondisi untuk kejatuhannya; menghilangkan ancaman nuklir dan balistik; memutuskan hubungan Teheran dengan organisasi proksinya," tambahnya.
Netanyahu bahkan tidak mengetahui apa yang terkandung dalam nota kesepahaman yang ditandatangani AS dan Iran secara digital di belakangnya. "Orang Iran tahu. Orang Pakistan tahu. Mungkin orang Qatar tahu. Netanyahu, tampaknya, tidak tahu," kata kolumnis itu.
Ia menambahkan bahwa Netanyahu berupaya meminimalkan krisis dalam hubungannya dengan Trump yang secara mencolok ia hindari. “Benar. Tetapi dalam keluarga terbaik sekalipun, perselisihan biasanya tidak disertai dengan penghinaan, pelecehan, dan pengabaian publik setiap hari yang datang dari presiden Amerika yang semakin tidak sabar.”
Ia juga menantang pernyataan Netanyahu bahwa Israel mencegah Pasukan Radwan Hizbullah menyerang Israel. Verter menyebutnya sebagai "kebohongan besar."
'Pertunjukannya telah berakhir'
Kolumnis Maariv, Ben Caspit, menulis sebuah artikel berjudul: "Pertunjukan Netanyahu telah berakhir: Trump mengorbankannya."
Caspit mempertanyakan peringatan berulang Netanyahu bahwa Israel telah lolos dari kematian. Ia berpendapat bahwa penggunaan ancaman dimaksudkan untuk mengaburkan tanggung jawab atas kegagalan Israel terhadap Iran.
“Sekali lagi, Israel tidak dilibatkan,” tambahnya.
Netanyahu telah diincar oleh Mahkamah Pidana Internasional sejak 2024 atas tuduhan kejahatan perang dan kemanusiaan yang dilakukan terhadap warga Palestina di Jalur Gaza selama perang genosida Israel.
Genosida telah menewaskan lebih dari 73 ribu orang dan melukai lebih dari 173 ribu lainnya sejak Oktober 2023.
Caspit mencatat bahwa Netanyahu tidak menyebut nama Trump selama konferensi persnya. Bahkan selama sesi tanya jawab.
“Dia juga mengakui bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang perjanjian yang ditandatangani secara elektronik tanpa sepengetahuannya,” tulis Caspit.
“Ini mengingatkan pada perjanjian lain yang ditandatangani pada tahun 2015.”
“Netanyahu selalu berakhir di posisi yang sama,” lanjutnya.
“Dia disingkirkan, dikorbankan, dan dibiarkan berdiri di lorong seperti anak yang dimarahi menunggu putusan yang disampaikan tanpa kehadirannya.”
‘Penghinaan terbesar’


0 Response to "Analis Israel ramai-ramai mengecam: PM Netanyahu telah dipermalukan Donald Trump"
Posting Komentar