Review Geely EX2 tipe Max: Mobil listrik harian yang masuk akal, irit dipakai, dan ternyata santai naik ke puncak
Ada mobil yang kelihatannya canggih di brosur, tapi bikin capek saat dipakai tiap hari. Ada juga yang tampil sederhana, tapi justru jadi teman paling setia di setiap rutinitas harian.
Geely EX2 Max jelas masuk kategori kedua, dan setelah dipakai beberapa hari, rasanya seperti menemukan teman beraktivitas yang tidak banyak gaya, tapi selalu bisa diandalkan.
Dalam review kali ini, mayoritas digunakan untuk perjalanan harian sekitar 20 km per hari selama lima hari kerja. Rute yang penuh kemacetan, berhenti-jalan, dan kadang lebih sering menginjak rem daripada pedal gas.
Tapi di sela rutinitas itu, mobil ini juga sempat diajak healing tipis-tipis ke Puncak, Bogor. Tentu, ini adalah sebuah ujian klasik untuk melihat apakah mobil listrik cuma jago di kota atau juga kuat di tanjakan. Jawabannya? Santai saja.
Dalam kombinasi penggunaan tersebut, yaitu dikendarai harian di Kota Bogor, ditambah perjalanan Jakarta ke Puncak lalu lanjut ke Depok, konsumsi energi total berada di kisaran 26 kWh. Selama itu, mobil diisi daya dua kali, masing-masing 28,34 kWh dan 19,08 kWh.
Totalnya memang terlihat lebih besar dari konsumsi, tapi di situlah realita penggunaan mobil listrik. Ada faktor charging loss, ada cadangan baterai, dan ada gaya berkendara yang kadang “khilaf” sedikit alias kaki tidak sekolah karena keenakan injak pedal gas.
Meski begitu, kalau dihitung dengan tarif listrik rumah tangga, total biaya tetap hanya di kisaran Rp 60–70 ribuan. Dengan angka segitu, rasanya bensin cuma cukup buat nostalgia, bukan buat jalan jauh.
Begitu duduk di balik kemudi, kesan pertama yang muncul adalah halus. Bukan halus yang dibuat-buat, tapi memang karakter khas mobil listrik yang langsung terasa sejak pedal gas diinjak. Tenaga datang instan, tanpa jeda, tanpa drama. Di kemacetan Jabodetabej, ini seperti punya superpower kecil, mobil langsung bergerak tanpa harus mikir ini gigi berapa ya?
Suspensinya juga berkontribusi besar terhadap kenyamanan. Dengan konfigurasi MacPherson strut di depan dan multi-link di belakang, bantingan terasa cukup matang. Jalan yang tidak rata bisa dilalui tanpa banyak protes dari kabin, dan mobil tetap stabil tanpa terasa limbung berlebihan. Buat ukuran mobil listrik entry-level, ini sudah lebih dari cukup. Beneran.
Lalu tibalah momen pembuktian di Puncak. Tanjakan panjang, tikungan berlapis, dan biasanya jadi tempat mobil kecil mulai minta ampun. Tapi EX2 Max justru seperti tidak peduli. Torsi instan khas motor listrik membuat tanjakan terasa seperti jalan biasa saja.
Tidak ada suara mesin meraung, tidak ada perpindahan gigi yang bikin mikir, dan yang paling penting tidak ada drama kehilangan tenaga. Tinggal tekan pedal, mobil naik dengan tenang, seolah berkata, “Santai, ini cuma tanjakan, bukan ujian hidup.”
Dari sisi ukuran, mobil ini berada di titik yang pas. Panjang sekitar empat meter dengan wheelbase yang cukup membuatnya lincah di jalan sempit dan parkiran, tapi tetap terasa lega di dalam. Kabinnya cukup nyaman untuk empat sampai lima orang, sementara bagasi masih bisa menampung kebutuhan harian tanpa harus bermain Tetris setiap kali belanja.
Fitur yang dibawa sebenarnya sudah cukup modern untuk mendukung penggunaan sehari-hari. Ada layar infotainment selebar 14,6 inci dan panel instrumen digital dengan lebar 8,8 inci yang membuat interior terasa kekinian.
Kemudian, masih ada fitur keyless entry dan start yang memudahkan akses tanpa ribet, electronic parking brake dengan auto hold yang sangat membantu di kemacetan, kamera parkir dan sensor yang bikin parkir lebih santai, serta AC digital lengkap dengan ventilasi belakang supaya penumpang yang duduk di baris kedua tidak merasa seperti anak tiri.
Mode berkendara juga tersedia untuk menyesuaikan karakter mobil sesuai kebutuhan. Semua bekerja dengan baik, tidak berlebihan, tapi juga tidak terasa ketinggalan zaman.
Namun, di balik semua kelebihan itu, ada beberapa hal yang membuat varian Max ini terasa masih “setengah langkah lagi”. Mobil ini belum dibekali ADAS, jadi fitur keselamatan aktif seperti adaptive cruise control atau lane keeping assist masih absen. Bahkan cruise control biasa pun belum tersedia, jadi kalau di tol kaki kanan masih harus setia bekerja tanpa bantuan.
Spionnya juga belum bisa melipat otomatis, yang kadang terasa kurang praktis saat parkir di tempat sempit. Dan yang paling gampang terlihat: pelek masih menggunakan model kaleng, yang secara fungsi memang tidak masalah.
Namun pada akhirnya, semuanya kembali ke satu hal, yaitu, value for money. Dengan harga di kisaran Rp 260 jutaan, EX2 Max menawarkan paket yang sulit diabaikan. Baterai besar, jarak tempuh panjang, penggerak roda belakang, suspensi belakang multi-link, serta biaya operasional yang sangat rendah membuat mobil ini terasa seperti pembelian yang rasional. Ia bukan mobil untuk pamer fitur, tapi mobil untuk dipakai, benar-benar dipakai secara fungsional.
Dan mungkin di situlah daya tarik terbesarnya. Geely EX2 Max bukan mobil yang ingin terlihat hebat, tapi mobil yang diam-diam membuktikan dirinya di jalan. Overall, mobil listrik ini sudah bisa dibilang "nyampe" sama anak-anak Jaksel.


0 Response to "Review Geely EX2 tipe Max: Mobil listrik harian yang masuk akal, irit dipakai, dan ternyata santai naik ke puncak"
Posting Komentar